(TUGAS PAI) Autobiografi Kiki Wulandari: Terlahir dari Perjuangan, Bukan Kebetulan
Nama saya Kiki Wulandari, saya lahir di Kasihan, Balong, Girisubo, Gunungkidul. Saya lahir pada tanggal 30 Maret 2007, awalnya saya ingin diberi nama Tania karena ada salah satu tetangga yang memberi saran kepada orang tuaku tetapi, akhirnya namaku adalah Kiki Wulandari saya juga biasa dipanggil Kiki. Jujur sampai sekarang saya belum mengetahui kenapa orang tua saya memberikan nama Kiki, tetapi untuk Wulandari sendiri memiliki arti bulan purnama, sinar, yang melambangkan wanita anggun dan menenangkan.
Saya adalah anak perempuan pertama dan cucu pertama dari keluarga orang tua saya, mungkin karena saya anak pertama jadi masih menjadi pembelajaran dan pengalaman dalam hubungan pernikahan orang tua saya.
Sampai saat ini saya menjadi kakak perempuan dari 2 adik saya. Sebenarnya saya memiliki 3 adik, jadi saat ibu mengandung saya itu kembar, tetapi pada saat dikandungan kembaran saya (adik saya) tidak kebagian nutrisi akhirnya pada saat persalinan lahiran yang selamat hanya saya. Dan sekarang saya diberi 2 adik laki-laki dan perempuan.
Jarak umur saya dan adik-adik saya cukup jauh, saya dengan adik saya yang laki-laki adalah 6 tahun dimana dia sekarang menduduki kelas 6 SD, lalu untuk jarak umur saya dan adik saya yang perempuan adalah 17 tahun.
Saya terlahir dari Bapak Subiyono dan Ibu Tri Sugiyanti yang membuatku sangat bersyukur terlahir dikeluarga yang sangat sayang dan selalu mencukupi apa kebutuhan saya. Saya juga sangat bahagia bisa menjadi anak dari keluarga saya yang sangat harmonis dan humoris.
Setelah saya lahir di dunia dan berumur 8 bulan, perjalanan usaha orang tuaku dimulai. Dari Gunungkidul, orang tuaku memutuskan untuk merantau di Kota Yogyakarta. Awalnya Ibu saya hanyalah seorang pembantu disalah satu keluarga cina di Malioboro dan Bapak saya hanya menjadi karyawan bakso di Temanggung. Sampai akhirnya orang tuaku memiliki ide untuk membuka usaha mie ayam bakso bongkar pasang di trotoar Dagen Malioboro.
Pada saat hidup di Malioboro, saya dan orang tua saya ngekost dengan mencari sumber rejeki dari usaha mie ayam bakso tersebut. Selama 2,5 tahun orang tua saya merintis mie ayam bakso tersebut akhirnya mereka memiliki rencana untuk berpindah tempat usaha dari Malioboro ke Jalan Monjali.
Di Jalan Monjali ini, orang tua saya sudah mulai mampu menyewa/mengontrak ruko dan Alhamdulillahnya ekonomi keluarga kami meningkat, sampai akhirnya beberapa tahun kemudian berpindah ruko tetapi tetap di Jalan Monjali. Mulai dari sini orang tua saya sudah mulai mengajak adik-adiknya untuk membantu warung mie ayam baksonya. Setelah beberapa tahun kemudian, berpindah tepat lagi yang lebih luas di Jalan Monjali lalu dari tahun ke tahun Alhamdulillahnya lebih meningkat lagi dan akhirnya orang tuaku mulai mencari karyawan lalu membuka beberapa cabang.
Sempat juga orang tuaku diajak untuk bekerja sama dan adapun orang Malaysia yang ingin membeli resep bakso orang tua saya. Untuk saat ini warung mie ayam bakso orang tua saya ada di Jalan Monjali sebagai pusatnya, Pasar Kutu didekat TVRI Jalan Magelang, UGM depan selokan, Kantin Jogja City Mall, belakang Jogja City Mall, dan daerah Sindu Kusuma Edupark.
Saya sangat bersyukur bisa menuntaskan pendidikan saya full negeri, maksudnya dari SD-Kuliah ini saya bisa masuk di sekolah-sekolah yang negeri. Pada saat SD aku selalu berusaha menjadi 10 besar dikelas walaupun bagusnya 3 besar. Lulus dari SD nem saya hanya 20, dan saya sangat bingung harus melanjutkan SMP dimana, tadinya saya ketolak dari 3 SMP negeri yang saya pilih.
Lalu orang tua saya memutuskan untuk mendaftarkan saya di swasta yaitu SMP Muhammadiyah 10 Yogyakarta dengan melunasi semua. Tetapi ternyata pada keesokan harinya saya diberi kabar bahwa sebenarnya saya masih diterima dipilihan ke-3 yaitu di SMPN 2 Gamping Sleman. Karena orang tua saya memproritaskan negerinya, maka berkas-berkas saya yang di SMP Muhammadiyah dicabut lalu dipindahkan ke SMPN 2 Gamping tersebut.
Di SMP ini saya tidak sepenuhnya merasakan kebersamaan dengan teman saya karena terpisah pada saat libur Covid-19. Kami hanya merasakan kelas 1 smp di semester 1 dan kembali tatap muka walaupun belum masuk sepenuhnya masih memakai konsep ganjil genap pada saat kami kelas 2 semester 2.
Pada saat SMP saya benar-benar puas dengan nilai saya karena pada ujian-ujian kelulusan saya bisa masuk dalam ranking 3 besar. Dan pada akhirnya tiba kelulusan dimana saya tidak terlalu pusing untuk memilih sekolah selanjutnya, karena dari awal saya sangat yakin untuk melanjutkan pendidikan di SMK bukan SMA.
Saya sangat tertarik SMK karena tidak hanya teori saja tetapi ada praktek-praktek dan juga PKL, hal ini yang membuat saya tertarik dan yakin untuk masuk SMK. Sejujurnya yang membuat saya bingung adalah jurusan apa yang harus saya pilih karena saya belum tahu pasti dimana dan apa passion saya.
Pertama saya mencari SMK negeri yang memiliki jurusan yang mayoritasnya perempuan dan juga dekat dari rumah. Ada SMKN 1 Yogyakarta dan juga SMKN 7 Yogyakarta, nah saya memilih dua sekolah tersebut dengan berbeda jurusan. Pertama saya memilih SMKN 1 Yogyakarta dengan jurusan Perkantoran, pilihan kedua saya memilih SMKN 7 Yogyakarta dengan jurusan Perkantoran dan Pariwisata.
Ternyata alhasil saya diterima di SMKN 1 Yogyakarta jurusan Perkantoran dan SMKN 7 Yogyakarta jurusan Pariwisata. Dari sini saya memilih SMKN 7 Yogyakarta dengan jurusan Pariwisata. 3 Tahun saya menjalani menjadi siswa SMKN 7 Yogyakarta sangat tidak terasa, dari hal yang menyenangkan sampai menyedihkan namun sekarang hanyalah menjadi kenangan.
Tak terasa hari kelulusan pun tiba dan saya harus benar-benar mencari dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya juga sudah berniat dan sangat-sangat berniat untuk melanjutkan kuliah di UNY dengan prodi Pariwisatan. Alhamdulillahnya saya termasuk siswa eligible tetapi saya tidak lolos lalu saya mencoba untuk mengikuti SNBT dan saya memilih di UGM.
Saya memang tidak terlalu niat untuk di SNBT ini karena saya sadar diri dengan kemampuan-kemampuan orang diluar sana, saingannya pun sudah bukan 1 kota lagi, melainkan 1 Indonesia. Dan ternyata SNBT saya tidak lolos lalu saya mencoba seleksi mandiri UNY jalur niali rapot itupun juga tidak lolos, akhirnya saya mencoba CBT Domisili UNY (jalur terakhir) yang memiliki daya tampung paling banyak dari semu jalur.
Di jalur terakhir ini saya sangat pasrah karena saya benar-benar kurang yakin akan diterima di UNY, kebetulan prodi Pariwisata ini adalah termasuk prodi lumayan ketat dan ramai diminati oleh orang-orang. Saya selalu berdoa kepada Allah S.W.T, agar mimpiku ini terwujud. Tak lupa saya juga sudah mendaftar di kampus swasta cadangan yaitu STIPRAM (Sekolah Tinggi Pariwisata).
Hari pengumumanpun tiba, saya sangat pasrah dengan Allah apapun hasilnya pastilah yang terbaik. Dan ya, Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk melanjutkan pendidikan di UNY dengan prodi yang saya inginkan. Sekarang saya telah menjadi mahasiswa UNY yang dulu pernah saya impikan.
Harapan kehidupan kedepan adalah saya bisa menyelesaikan pendidikan yang telah saya mulai ini dengan maksimal dan memuaskan, serta menjadikan semua hal pelajaran dalam kehidupan lalu saya juga memiliki cita-cita untuk menjadi pramugari kereta di KAI. Semoga Allah masih memberi saya kesempatan untuk mimpi saya kali ini.
Pada akhirnya, perjalanan hidup ini bukan tentang seberapa jauh langkah yang telah ditempuh, melainkan tentang bagaimana setiap pengalaman membentuk diri saya hari ini. Dari setiap kegagalan saya belajar bertahan, dari setiap keberhasilan saya belajar bersyukur. Kisah ini bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang yang masih terus berlanjut. Saya percaya, selama masih ada harapan dan kemauan untuk melangkah, selalu ada cerita baru yang menunggu untuk ditulis.
Komentar
Posting Komentar